Fenomena Milenial: Apakah Mereka Kurang Sejahtera dari Harapan?
Generasi milenial, yang umumnya lahir antara awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, seringkali diidentikkan dengan kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, dan pola pikir yang dinamis. Namun, di balik citra modern ini, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Fenomena Milenial menunjukkan bahwa mereka sebenarnya kurang sejahtera dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Baby Boomer? Sebuah studi terbaru mengindikasikan adanya kesenjangan kesejahteraan yang menarik untuk dikaji lebih dalam.
Penelitian yang dirilis pada bulan November 2024 oleh Pusat Studi Ekonomi dan Demografi Nasional (PSEN) menunjukkan bahwa meskipun milenial memiliki akses pendidikan yang lebih tinggi dan peluang global yang lebih luas, banyak dari mereka menghadapi tantangan ekonomi yang unik. Studi tersebut membandingkan indikator kesejahteraan seperti kepemilikan aset, stabilitas pekerjaan, dan kemampuan membeli properti pada usia yang sama antara milenial dan Baby Boomer. Hasilnya, secara mengejutkan, menunjukkan bahwa Baby Boomer pada usia yang sama memiliki tingkat kepemilikan rumah dan akumulasi kekayaan yang lebih tinggi. Ini menjadi bagian penting dari Fenomena Milenial yang perlu dipahami.
Beberapa faktor diduga berkontribusi pada kondisi ini. Pertama, biaya hidup, khususnya harga properti dan pendidikan tinggi, telah meningkat secara drastis dibandingkan era Baby Boomer. Kedua, stabilitas pekerjaan pasca-krisis ekonomi global dan disrupsi teknologi juga menjadi tantangan. Banyak milenial yang memulai karir di tengah kondisi pasar kerja yang tidak menentu, dengan lebih banyak pekerjaan kontrak atau gig economy yang kurang menawarkan jaminan jangka panjang.
Selain itu, gaya hidup dan prioritas yang berbeda juga memainkan peran. Meskipun ada pandangan bahwa milenial cenderung boros, data menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka justru menghadapi tekanan finansial yang memaksa mereka untuk menunda keputusan besar seperti membeli rumah atau menikah. Ini menunjukkan bahwa Fenomena Milenial tidak semata-mata tentang pilihan gaya hidup, tetapi juga respons terhadap kondisi ekonomi makro yang ada. Pada sebuah diskusi panel tentang “Kesejahteraan Generasi” yang diadakan di Balai Kota pada 15 Januari 2025 lalu, Profesor Dr. Budi Santoso dari Universitas Indonesia menyoroti pentingnya kebijakan ekonomi yang adaptif untuk mendukung generasi ini.
Melihat Fenomena Milenial ini, penting bagi pembuat kebijakan, institusi keuangan, dan bahkan individu itu sendiri untuk memahami akar masalahnya. Solusi yang terintegrasi, seperti program kepemilikan rumah yang lebih terjangkau, skema investasi yang mudah diakses, serta pendidikan literasi finansial yang komprehensif, dapat membantu milenial menavigasi tantangan ekonomi ini. Dengan demikian, diharapkan generasi ini dapat mencapai potensi kesejahteraan yang sesuai dengan harapan mereka dan kontribusi besar yang mereka berikan kepada masyarakat.