Generasi Tertekan di Dunia Kerja: Menguak Beban Stres Gen Z

Admin/ Mei 31, 2025/ Generasi

Generasi tertekan di dunia kerja adalah realitas yang semakin nyata, terutama bagi Generasi Z. Mereka, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kini menghadapi tantangan unik yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Transisi dari bangku sekolah ke dunia profesional seringkali diwarnai oleh ketidakpastian ekonomi, persaingan ketat, dan ekspektasi yang tinggi, memicu tingkat stres yang signifikan.

Berdasarkan studi global terbaru yang dirilis pada April 2023 oleh Cigna International Health, sebuah survei mengejutkan menunjukkan bahwa 91 persen pekerja berusia 18-24 tahun mengalami stres. Angka ini jauh melampaui kelompok usia lainnya, menandakan Gen Z sebagai generasi tertekan paling dominan di lingkungan kerja. Banyak faktor yang berkontribusi pada fenomena ini. Salah satunya adalah gejolak ekonomi global yang terus-menerus. Resesi dan fluktuasi pasar menciptakan ketidakamanan kerja, ditambah dengan gaji yang kerap dirasa tidak memadai untuk biaya hidup yang terus meningkat. PHK massal yang terjadi di berbagai sektor industri, seperti yang terlihat pada akhir tahun 2022 hingga awal 2023 di beberapa perusahaan teknologi besar, semakin memperparah kondisi ini.

Pandemi COVID-19 juga berperan besar dalam membentuk mentalitas Gen Z. Mereka lulus atau memulai karier di tengah krisis kesehatan global, yang mengubah lanskap kerja secara drastis. Work from home (WFH) dan kemudian transisi kembali ke kantor, seringkali dengan model hybrid, menciptakan kebingungan dan kesulitan dalam menyesuaikan diri. Selain itu, ada jurang pemisah yang lebar antara ekspektasi Gen Z tentang dunia kerja ideal dengan realitas yang mereka hadapi. Banyak yang berharap akan lingkungan kerja yang suportif, fleksibel, dan memiliki dampak sosial, namun seringkali berhadapan dengan tuntutan kinerja yang tinggi, jam kerja panjang, dan budaya perusahaan yang kurang inklusif.

Kurangnya keterlibatan atau engagement dalam pekerjaan juga menjadi pemicu stres. Beberapa anggota generasi tertekan ini merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan minat atau tujuan hidup mereka, menyebabkan rasa hampa dan demotivasi. Transisi dari kehidupan mahasiswa yang dinamis ke rutinitas pekerjaan yang lebih terstruktur seringkali terasa berat. Penting bagi perusahaan dan pemimpin untuk memahami akar masalah ini dan berupaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan suportif. Program kesehatan mental, fleksibilitas kerja, dan kesempatan pengembangan diri dapat membantu mengurangi beban stres yang dialami Gen Z.

Mengatasi stres yang dialami Gen Z bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga kolektif. Pemerintah, misalnya, dapat berperan dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pasar kerja yang lebih stabil. Perusahaan perlu berinvestasi dalam kesejahteraan karyawan dan memastikan adanya saluran komunikasi yang efektif. Dengan demikian, kita dapat membantu generasi tertekan ini untuk berkembang dan mencapai potensi penuh mereka di dunia profesional.

Share this Post